Warna Sebagai Fungsi Artistik Simbolis Indonesia

Makna warna pada karya seni tradisional di Indonesia :Memiliki nilai simbolis dan nilai keindahan. Umumnya diasosiasikan dengan hubungan-hubungan yang bersifat supernatural (adikodrati), atau ada kekuatan tertentu yang menguasai bagian dari
alam raya.
Warna putih, hitam, dan merah bagi umumnya suku bangsa di Indonesia merupakan warna bernilai simbolis.
Susunan warna bernilai simbolis yang masih dipergunakan pada beberapa karya seni dan suku bangsa di Indonesia.

Susunan warna di daerah Bali
Falsafah warna Bali disebut “Panca Maha Butha”, bersumber dari falsafah hinduisme, unsurnya terdiri dari air, api, udara, tanah, dan angkasa (akasa).Susunan warnanya dinamakan “Rajah Nawasanga” , terdiri dari 9 warna, yang dihubungkan dengan nama dewa dan arah mata angin. Skema warnanya cenderung ke arah warna muda (tint).

Peran warna hitam dan putih di Bali cukup penting.
Sebagai simbol rwa bhineda, yaitu perbedaan yang mengatur keseimbangan dunia (dua sisi kehidupan, baik-buruk, terang-gelap).

Catur warna di Bali simbol golongan masyarakat tertentu
Putih = warna Brahmana
Merah = warna Ksatriya
Kuning = warna Wesya
Hitam = warna Sudra

Susunan warna di daerah Yogyakarta dan Solo
Penggunaan warna telah terpola oleh peraturan yang tidak tertulis dari keraton, karena kebudayaan Jawa berpusat di keraton.
Kuning adalah lambang keraton/sultan.
Hitam, cokelat, putih, atau biru tua menjadi warna-warna batik tradisional.
Merah biasanya muncul pada pertunjukan wayang kulit.


Susunan warna di daerah Pekalongan
Termasuk daerah Jawa Pesisir Utara. Selain menggunakan warna-warna seperti di Yogyakarta dan Solo, juga menggunakan warna-warna yang berasal dari pengaruh luar.
Koleksi corak dan warna lebih beragam karena pengaruh kebudayaan asing seperti China, Arab, India dan Eropa.
Contohnya, seni batik lebih kaya dalam corak, dengan warna lebih dinamis.


Susunan warna di daerah Jawa Barat
Sifatnya lebih terbuka terhadap pengaruh unsur luar, sehingga terjadi proses akulturasi.
Hal-hal yang bersifat tradisional religius magis sedikit demi sedikit terkikis.
Warna-warna simbolis masih dipergunakan oleh sebagian adat Sunda, seperti putih, merah, kuning.

Warna putih sebagai pakaian pengantin wanita yang masih gadis.

Selendang putih untuk upacara ‘numbas’, simbol kebanggaan mertua terhadap menantu yang masih suci.

Warna merah putih untuk upacara “ngaruat” rumah  baru, syukuran berganti nama.

Warna kuning untuk nasi kuning, sebagai syukuran naik pangkat,
ulang tahun, atau lulus ujian.

Budaya Sunda juga mengenal warna analog atau nada warna, seperti urutan antara merah dengan biru: mulai dari beureum (merah), kayas (merah muda), kasumba (merah muda ada unsur ungu), gandaria (ungu), gandola (biru keunguan), paul (biru ultramarine).

Kayas bisa dimasukkan pada susunan warna cerah (tint), antara merah dan putih.


Susunan warna di daerah Minangkabau
Warna-warnanya menggambarkan kekayaan dan keindahan alam Sumatera Barat.
Simbol sistem kekeluargaan matrilineal menurut garis ibu, yang teguh memegang adat ninik mamak yang penuh petatah petitih. Tergambar dalam seni kerajinan kain songket dan sulaman yang merupakan ketrampilan wanita Minang.
comments powered by Disqus