Walhi Sarankan Produk HP Lebih Ramah Lingkungan

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia menyarakan perusahaan pembuat telepon genggam untuk lebih ramah lingkungan dalam proses produksi sehingga mengurangi dampak kerusakan terhadap lingkungan.

"Ada beberapa cara yang dapat dilakukan perusahaan pembuat handphone untuk mengurangi kerusakan lingkungan, mulai dari inovasi desain dan peningkatan teknologi untuk memperbaiki proses produksi," kata Manajer Kampanye Tambang dan Energi Walhi Pius Ginting di Jakarta, Rabu.

Timah merupakan salah satu komponen dalam handphone di mana penambangan timah menyebabkan kerusakan lingkungan, Pulau Bangka Belitung menghasilkan hampir sepertiga timah dunia yang diekspor ke berbagai negara.

Kerusakan yang ditimbulkan dari kegiatan penambangan timah begitu nyata seperti sumber air bersih sulit untuk didapatkan, dan tanah kehilangan kesuburan karena penambangan, tailing yang dibuang ke laut merusak habitat ikan dan terumbu karang, sehingga produk handphone perlu lebih ramah lingkungan.

Upaya-upaya menjadikan handphone ramah lingkungan yaitu memperpanjang usia penggunaan handphone harus menjadi prioritas. Umumnya handphone hanya digunakan 18 bulan. Sebuah studi di Swiss menyatakan memperpanjang usia handphone hingga empat tahun dapat mengurangi dampak lingkungan sampai 40 persen.

Menggunakan material yang lebih baik juga merupakan cara untuk lebih ramah lingkungan. Material yang tepat penting untuk keberlanjutan. Alernatif yang tersedia bagi bahan berbasiskan bahan bakar fosil dan plastik untuk casing handphone adalah plastik daur ulang, polylactic acid plastic (PLA) dari bahan glokusa (renewable dan atau bahkan ebamboo yang digunakan dalam Adzero handphone).

Rancangan untuk memudahkan perbaikan dan upgrade. Semua handphone sebaiknya dirancang secara mudah untuk perbaikan dan upgrade. Penggunaan bahan adhesives mempersulit susun ulang.

Handphone yang menggunakan energi lebih sedikit. Perbaikan baterai dan charger yang lebih efesien. Organic radical battery (ORB) baru tidak menggunakan logam berat dan dapat mengisi dalam waktu hanya 30 menit dan dapat menghemat pengunaan energi hingga berjam-jam.

Pemilihan asesories seperti kemasan, manual, charger, dan asesoris lain dapat memperbaiki. Sebagai contoh, charger tertentu untuk setiap model baru sangat boros akan material.

Strategi bisnis baru. Terlalu banyak perusahaan terkungkung dalam model bisnis yang sama, yang kemudian keuntungannya tergantung pada maksimalisasi penjualan, dimana kejenuhan pasar mendorong mengurangi waktu hidup (life-spans) produk. Perusahaan perlu cara membuat keuntungan diluar menjual produk baru misalnya penyewaan, perbaikan untuk jual ulang, dan peningkatan kualitas paska jual. Menambang tingkat recovery dimana handphone harus dikembangkan dalam sistem yang disebut ekonomi lingkar (circular economy), secara ideal berbasiskan "loop tertutup", menggunakan kembali produk yang dibuang dalam pembuatan produk baru.

Meningkatkan daur ulang, semua handphone sebaiknya dirancang bisa didaur ulang di masa depan. Selama ini sebagian besar handphone dibuang ketika masih fungsional.

"Kita juga menginginkan perusahaan terbuka tentang bagaimana produk dibuat, tentang material yang mereka pakai, seberapa mudah diperbaiki, di upgrade, dan didaur ulang," kata dia.(ar)
comments powered by Disqus