Karawitan

KOMPOSISI GENDING PETALON
 

 
Ada tiga dharma besar manusia dalam siklus hidup manusia. Orang Jawa mengenalnya dengan konsep tigaan. Purwa- madya- wasana. Purwa artinya awal, madya itu tengah, wasana artinya akhir. Awal kehidupan manusia adalah kelahiran, menapak kehidupan madya adalah semenjak dewasa sampai menjelang masa tua. Sedangkan wasana adalah kala senja seseorang sampai saat ajalnya.
Perjalanan hidup kehidupan manusia Jawa selalu diingatkan di dalam setiap pertunjukan wayang. Komposisi Gending patalon atau gending pembuka sebelum Ki Dalang memainkan wayang, komposisinya digubah sebagai fase-fase kehidupan manusia. Gending petalon biasanya dimainkan untuk memberi suasana awal sebuah pertunjukan wayang. Jika gending itu dibunyikan maka penonton dibawa pada suasana dunia wayang. Dalang lalu bersiap-siap untuk memulai pagelaran.
Komposisi Gending itu diawali dengan gending Cucur Bawuk. Cucur atau kue cucur, bawuk adalah kemaluan anak wanita. Cucur Bawuk artinya kemaluan anak kecil yang polos, bentuknya layaknya kue cucur adalah gambaran kehidupan anak-anak yang polos, orisinal, penuh fantasi, dan indah.
Dilanjutkan gending Pare Anom. Pare Anom ‘buah paria yang masih muda’ buah pare atau paria yang muda itu berwarna hijau muda yang segar, adalah gambaran buah yang berwarna hijau masih remaja. Gambaran masa remaja yang ceria. Dilanjutkan Ladrang Srikaton yang mempunyai irama yang lincah, agung, dinamis. Gambaran puncak kehidupan manusia di dunia, puncak karier dan prestasi seseorang di dalam kehidupannya.
Memasuki masa paro ke tiga yang terakhir adalah masa-masa seseorang harus sudah mendekatkan diri pada sang Khalik. Diisyaratkan dengan gending Ketawang Suksma Ilang ’sukma melayang’ gubahan gending bernuansa sedih.
Saat-saat nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya digambarkan dengan gending yang cepat dan menghentak yaitu srepeg dan sampak. Penggambaran sakaratul maut itu dikomposisikan dengan irama yang begitu cepat dengan kendang yang menghentak-hentak. Layaknya hentakan malaikat maut yang secara paksa membetot nyawa. Bagi orang-orang yang sudah sampai rasanya. Irama itu membuat bulu kuduk merinding. Ingat janji dengan malaikat maut itu. Apalagi bagi yang usianya telah senja. Semangat untuk melanggar norma-norma agama dan masyarakat seperti korupsi, kolusi dan segala macam pelanggaran etika seketika sirna. Dalam keadaan demikian manusia lalu menemukan fitrahnya untuk bisa kembali pulang ke kampung akherat. Secara naluri orang yang mendengar gending Suksma Ilang itu sedih, bahkan ada yang menangis takut tidak bisa menemukan jalan menuju pulang. Mulih mulanira ‘kembali ke Khalik’.
Ending dari komposisi gending itu adalah gambaran ketika nyawa ini lepas dari badan. Gending itu makin pelan..lirih lalu menghilang dengan damai…. 

From http://wayang.i2.co.id/gendingpetalon.htm 
comments powered by Disqus